Wednesday, April 18, 2012

Sang Pengemban Titah: Putra Anjani

Entah kenapa dengan sosok yang satu ini, semenjak kecil amat ku suka. Masih ingat lapat-lapat ketika ayah setiap malam bercerita kepadaku dan adik tentang kisah heroik sang titah ini, di mata aku dan adik, tokoh ini lebih hebat dari super hero manapun yg pernah tercipta dalam komik-komik yang selalu ayah belikan setiap awal bulan. Kesaktiannya, kegesitannya, kecerdikkannya, dan kesabarannya selalu memukau, walaupun di ulang-ulang hampir setiap malam tidak pernah kami merasa bosan

Bersama saudaranya Anila dan Anggada, juga temannya Kapi Jembawan dan pamannya Sugriwa yang sakti mandra guna, mengobrak- abrik negeri Alengka demi membebaskan kekasih Junjungan mereka Sang Rama. Anoman seekor kera putih, yang merupakan putra Anjani inilah tokoh idolaku bahkan sampai tulisan ini ku buat.

Tentu saja ketika aku kecil, dongeng yang ayah ceritakan hanya melulu tentang kehebatannya tanpa embel-embel falsafah dan makna yang ada dalam perjalanan hidup seorang titah ini, kecuali sebuah pesan di akhir cerita "yang jahat pasti kalah".

Waktu berjalan, dan aku pun tumbuh kembang menjadi dewasa, dalam perjalanan hidupku ini banyak cerita yang telah terukir dalam pena waktu, termasuk mencari siapa sebenarnya aku dan juga siapa Aku. suatu ketika, lewat sebuah buku "Anak Bajang Menggiring Angin" karya Sindhunata, sosok sang titah ini kembali aku kenal, komplit dengan apa inti kawruh yang selama ini aku pahami.

Semuanya berawal dari :

Kabar tentang sayembara yg diadakan oleh Prabu Sumali, raja Alengka (Ngalengka), sampai juga ke telinga Prabu Wisrawana, raja Lokapala yg belum mempunyai garwa prameswari. "Barang siapa yg bisa mengalahkan senapati Alengka, Arya Jambumangli akan dinikahkan dengan Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali."

Panjanging tembang punjunging kidung (lagu yg terdengar hingga ke tempat yg jauh dan tinggi) tentang keelokan, kepandaian dan keluhuran budi sang putri Dewi Sukesi membuat Prabu Wisrarana (Juga disebut Prabu Danapati atau Danaraja ) membulatkan tekad, sekalipun sudah tersiar pula kabar  putra raja dan raja yg dikalahkan oleh Jambumangli.

Mendengar titah sang Prabu Wisrawana patih Banendra segera menghaturkan sembah, hendak menyiapkan wadyabala (pasukan) guna mengiringi keberangkatan Prabu Wisrawana menuju kerajaan Alengka memasuki sayembara tersebut.

Namun kedatangan Resi Wisrawa, ayah Prabu Wisrawana yang telah seleh kaprabon madeg pandhita (menyerahkan kepemimpinan kerajaan dan menjauhi keduniawian dengan menjadi pandhita), membuat Prabu Wisrawana mengurungkan niatnya. Resi Wisrawa yang mendengarkan rencana Prabu Wisrawana memberi wejangan, bahwa memang sudah waktunya bagi Prabu Wisrawana untuk berkeluarga namun seyogyanya tidak dengan cara menempuh perkelahian atau pertempuran, melainkan dengan meminang secara baik-baik untuk mendapatkan calon garwa prameswari. 

Bebasan "anak polah bapa kepradah" (anak berulah, bapak yg musti menangung kerepotannya) (arti kata 'pradah' : menjalani hukuman seperti budak -batur tukon-) , Resi Wisrawa yang akan menemui Prabu Sumali untuk meminang Dewi Sukesi bagi putranya Prabu Wisrawana.

Resi Wisrawa akan berangkat sendirian menuju kerajaan Alengka dengan pertimbangan seandainya pinangan itu ditolak tidak ada orang yg mengetahui. Prabu Wisrawana menyetujui dan menuruti dhawuh (nasihat) sang ayah.

Setelah berbagi salam dan cerita sekedar pembuka pembicaraan , sang Resi Wisrawa menyampaikan maksud kedatangannya yg sebenarnya.

"Kakang Begawan , sebenarnya sudah menjadi prasetya (janji) anak paduka , bahwa : "Tidak akan menikah sebelum mengetahui (putus) dalam berbagai sastra." Meski telah mengetahui dan memahami makna bermacam ragam sastra masih ada satu yg belum diketahuinya yaitu "Sastra Jendra Hayuningrat" Selain itu ada satu penghalang untuk anak paduka menikah, yaitu Jambumangli. Jambumangli yg masih terhitung saudara sepupu ingin menjadikan anak paduka Dewi Sukesi sebagai istri, maka diadakanlah pasanggiri (sayembara) perang tanding."

"Adhi Prabu, sungguh mengherankan yang menjadi keinginan anak Dewi Sukesi. Lagipula siapa yang memberitahukan tentang "Sastra Jendra Hayuningrat" kepadanya? Ketahuilah adhi prabu, "Sastra Jendra Hayuningrat" adalah wadosing bawana ingkang sinengker dening Sang Hyang Jagadnata, (rahasia alam semesta yg dijaga dengan sangat hati-hati oleh Sang Hyang Jagadnata). Meski pandhita utama sekalipun, belum tentu mengetahui tentang hal ini. "Sastra Jendra Hayuningrat" adalah pengetahuan tertinggi dan mulia tentang kehidupan. Binatang yg mendengarkan ketika "Sastra Jendra Hayuningrat" diwedarkan (diuraikan) , bila mati mendapat kemuliaan setara dengan manusia. Manusia yg mengetahui dan bisa memahami makna "Sastra Jendra Hayuningrat" , bila meninggal sukmanya akan mendapat kemulyaan , bersatu dengan para Jawata (dewa)." Mergo "Sastra Jendra Hayuningrat", merupakan Sastra cetha ugering ngaurip , kang njalari patitising pati sampurnaning kamuksan. (Ajaran yg nyata tentang pedoman menjalani kehidupan , yg membuat -seseorang- mati sesuai dengan garis hidup , dan meninggalkan dunia dengan sempurna)

Mendengar penjelasan Resi Wisrawa , tergugah rasa bathin Prabu Sumali , ingin mengetahui tentang "Sastra Jendra Hayuningrat".   Prabu Sumali pun lalu memohon kepada Resi Wisrawa , agar berkenan membabar wejangan makna "Sastra Jendra Hayuningrat".

"Adhi Prabu , "Sastra Jendra Hayuningrat , Pangruwating Diyu , Pangleburing Dur Angkara" , tidak boleh diwedarkan di sembarang tempat."

Prabu Sumali lalu paring dhawuh (memberi perintah) kepada abdi, agar membersihkan sanggar palanggatan (tempat bersembahyang) dan menyiapkan segala keperluan. Setelah semua siap sedia , Prabu Sumali dan Resi Wisrawa memasuki sanggar palanggatan. Setelah selesai Prabu Sumali menerima wejangan , tergambar dari wajahnya , hatinya merasa amat senang bisa mengerti makna "Sastra Jendra Hayuningrat"(cuplikan cerita "Alap-alaping Dewi Sukesi ini, punya mas Yogahart)

Bersambung........


No comments: