Entah kenapa dengan sosok yang satu ini, semenjak
kecil amat ku suka. Masih ingat lapat-lapat ketika ayah setiap malam bercerita
kepadaku dan adik tentang kisah heroik sang titah ini, di mata aku dan adik,
tokoh ini lebih hebat dari super hero manapun yg pernah tercipta dalam
komik-komik yang selalu ayah belikan setiap awal bulan. Kesaktiannya,
kegesitannya, kecerdikkannya, dan kesabarannya selalu memukau, walaupun di
ulang-ulang hampir setiap malam tidak pernah kami merasa bosan
Bersama saudaranya Anila dan Anggada, juga temannya
Kapi Jembawan dan pamannya Sugriwa yang sakti mandra guna, mengobrak- abrik
negeri Alengka demi membebaskan kekasih Junjungan mereka Sang Rama. Anoman
seekor kera putih, yang merupakan putra Anjani inilah tokoh idolaku bahkan
sampai tulisan ini ku buat.
Tentu saja ketika aku kecil, dongeng yang ayah
ceritakan hanya melulu tentang kehebatannya tanpa embel-embel falsafah dan
makna yang ada dalam perjalanan hidup seorang titah ini, kecuali sebuah pesan
di akhir cerita "yang jahat pasti kalah".
Waktu berjalan, dan aku pun tumbuh kembang menjadi
dewasa, dalam perjalanan hidupku ini banyak cerita yang telah terukir dalam
pena waktu, termasuk mencari siapa sebenarnya aku dan juga siapa Aku. suatu
ketika, lewat sebuah buku "Anak Bajang Menggiring Angin" karya
Sindhunata, sosok sang titah ini kembali aku kenal, komplit dengan apa inti
kawruh yang selama ini aku pahami.
Semuanya berawal dari :
Kabar
tentang sayembara yg diadakan oleh Prabu Sumali, raja Alengka (Ngalengka), sampai juga
ke telinga
Prabu Wisrawana, raja Lokapala yg belum mempunyai garwa prameswari. "Barang
siapa yg bisa
mengalahkan senapati Alengka, Arya Jambumangli akan
dinikahkan dengan Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali."
Panjanging
tembang punjunging kidung (lagu yg terdengar hingga ke tempat yg jauh dan
tinggi) tentang
keelokan, kepandaian dan keluhuran budi sang putri Dewi Sukesi membuat Prabu Wisrarana
(Juga disebut Prabu Danapati atau Danaraja ) membulatkan tekad, sekalipun
sudah tersiar pula kabar putra raja dan raja yg dikalahkan oleh
Jambumangli.
Mendengar
titah sang Prabu Wisrawana patih Banendra segera menghaturkan sembah, hendak menyiapkan
wadyabala (pasukan) guna mengiringi keberangkatan Prabu Wisrawana menuju
kerajaan Alengka memasuki sayembara tersebut.
Namun
kedatangan Resi Wisrawa, ayah Prabu
Wisrawana yang telah seleh kaprabon madeg pandhita (menyerahkan
kepemimpinan kerajaan dan menjauhi keduniawian dengan menjadi pandhita), membuat
Prabu Wisrawana mengurungkan niatnya. Resi Wisrawa
yang mendengarkan rencana Prabu Wisrawana
memberi wejangan, bahwa memang sudah waktunya bagi Prabu Wisrawana untuk
berkeluarga namun seyogyanya tidak dengan cara menempuh perkelahian atau
pertempuran, melainkan dengan meminang secara
baik-baik untuk mendapatkan calon garwa prameswari.
Bebasan
"anak polah bapa kepradah" (anak berulah, bapak yg musti menangung
kerepotannya) (arti kata 'pradah' : menjalani
hukuman seperti budak -batur tukon-) , Resi Wisrawa
yang akan menemui Prabu Sumali untuk meminang Dewi Sukesi bagi putranya Prabu
Wisrawana.
Resi Wisrawa
akan berangkat sendirian menuju kerajaan Alengka dengan
pertimbangan seandainya pinangan itu ditolak tidak ada orang yg mengetahui. Prabu
Wisrawana menyetujui dan menuruti dhawuh (nasihat) sang ayah.
Setelah
berbagi salam dan cerita sekedar pembuka pembicaraan , sang Resi
Wisrawa menyampaikan maksud kedatangannya yg sebenarnya.
"Kakang
Begawan , sebenarnya sudah menjadi prasetya (janji) anak paduka , bahwa : "Tidak akan menikah
sebelum mengetahui (putus) dalam berbagai sastra." Meski telah mengetahui dan memahami
makna bermacam ragam sastra masih ada
satu yg belum diketahuinya yaitu "Sastra Jendra Hayuningrat" Selain itu ada satu penghalang untuk anak paduka menikah, yaitu
Jambumangli. Jambumangli
yg masih terhitung saudara sepupu ingin
menjadikan anak paduka Dewi Sukesi sebagai istri, maka diadakanlah pasanggiri (sayembara) perang tanding."
"Adhi
Prabu, sungguh mengherankan yang menjadi keinginan anak Dewi Sukesi. Lagipula
siapa yang memberitahukan
tentang "Sastra Jendra Hayuningrat" kepadanya? Ketahuilah adhi prabu, "Sastra Jendra Hayuningrat" adalah wadosing bawana ingkang sinengker dening Sang Hyang Jagadnata, (rahasia alam semesta yg dijaga dengan sangat hati-hati oleh Sang Hyang
Jagadnata). Meski
pandhita utama
sekalipun, belum tentu mengetahui tentang hal ini. "Sastra Jendra Hayuningrat" adalah pengetahuan tertinggi dan
mulia tentang kehidupan. Binatang yg
mendengarkan ketika "Sastra Jendra Hayuningrat" diwedarkan
(diuraikan) , bila mati
mendapat kemuliaan setara dengan manusia. Manusia yg
mengetahui dan bisa memahami makna "Sastra Jendra Hayuningrat"
, bila meninggal sukmanya akan mendapat kemulyaan , bersatu dengan para
Jawata (dewa)." Mergo "Sastra Jendra Hayuningrat", merupakan
Sastra cetha
ugering ngaurip , kang njalari patitising pati sampurnaning kamuksan. (Ajaran yg
nyata tentang pedoman
menjalani kehidupan , yg membuat
-seseorang- mati sesuai dengan garis hidup , dan meninggalkan dunia dengan sempurna)
Mendengar
penjelasan Resi Wisrawa , tergugah rasa bathin Prabu Sumali , ingin
mengetahui tentang "Sastra Jendra Hayuningrat". Prabu Sumali pun lalu memohon kepada
Resi Wisrawa , agar berkenan membabar wejangan
makna "Sastra Jendra Hayuningrat".
"Adhi
Prabu , "Sastra Jendra Hayuningrat , Pangruwating Diyu , Pangleburing Dur
Angkara" , tidak boleh
diwedarkan di sembarang tempat."
Prabu Sumali
lalu paring dhawuh (memberi perintah) kepada abdi, agar
membersihkan sanggar palanggatan (tempat bersembahyang) dan
menyiapkan segala keperluan. Setelah semua siap sedia , Prabu Sumali dan Resi
Wisrawa memasuki sanggar palanggatan. Setelah
selesai Prabu Sumali menerima wejangan , tergambar dari wajahnya , hatinya
merasa amat senang bisa mengerti makna "Sastra Jendra Hayuningrat". (cuplikan cerita "Alap-alaping Dewi Sukesi ini, punya mas Yogahart)
Bersambung........
No comments:
Post a Comment